Saturday, 20 December 2025

To Live With Grief.


Opa Lukas Slamet Santosa,

Opa seperti namanya ya, Slamet Santosa.

Bisa bertahan sampai usia 93. Opa hebat sekali.

Dulu opa pernah dirawat di RS Eka, di RS Siloam, pernah kena stroke, lalu kena covid. 

Dan Opa selamat.

Saat tahun 2018 lalu, aku pernah menemani opa saat dirawat dan difisio, dan mami yang lebih intens merawat opa beberapa bulan terakhir ini di Siloam, ketika 2 jam sekali harus miring kanan dan miring kiri, harus minum obat, memantau infus, memantau makanan yang masuk di selang sonde.

Opa umurnya panjang, selama ini sudah berjuang, selama ini sudah menjadi berkat buat banyak orang, dan opa juga sudah menyelamatkan keluarganya.

Opa dan Oma bisa membina rumah tangga dengan baik, ngga neko-neko, anak-anaknya sukses dan punya peran di keluarga masing-masing. Opa harus bangga ya.

Opa hardworker banget, pekerja keras. Di usia Opa dulu yang seharusnya sudah pensiun pun, Opa tetap memilih dan memutuskan untuk bekerja. Etos kerja opa pasti sangat baik. Opa pasti disiplin (dan punya boundaries ya sepertinya, haha 😂)

Aku ingin Opa masih ada di sekitar, ketika terlintas "pingin dijagain Opa" saat Opa sudah berpulang, rasanya ngga layak dan terlalu egois untuk berharap seperti ini, karena dari setiap perjuangan yang Opa tempuh, sudah saatnya Opa istirahat...dengan tentram dan damai.

Semoga Opa tidak meninggalkan kekhawatiran ataupun penyesalan ya di sini, biar aku saja yang menanggung, karena aku masih merasa bersalah sama Opa.


Maaf ya Opa, sebetulnya aku pingin ngobrol banyak sekali sama Opa.

Coba dulu kita sering ngopi bareng ya Opa. Kita bisa nongkrong di kafe terus ngobrol, sambil ngerokok hehe. Sayangnya pas aku sudah ngerokok, eh Opa udah berhenti (ya emang baiknya begitu sih).

Tapi aku selalu keinget kalimat Opa: "Rokok itu kayak temen ngobrol".

Mungkin Opa juga ngerokok karena Opa suka memendam semuanya sendiri sebagai kepala keluarga.

Pas masa-masa Opa mulai sakit. Aku jadi banyak mikirin masa-masa Opa ketika masih bisa beraktivitas seperti yang Opa inginkan, nungguin Billy les, aku ngintilin Opa mas akupuntur dan kontrol ke RS Medistra sama Siloam (terus Opa pasti pesannya nasi hainam set dan aku makannya ditraktir haha). Aku kangen sekali kebersamaan itu, dan kangen mobil Carry merah Opa juga yang suka Opa bawa nyetir. Mungkin Opa jauh lebih rindu karena mobil itu pasti Opa beli dari kerja keras Opa dan pengorbanan Opa. 

Eh iya, kembali lagi ke nama "Slamet"..

Opa juga sudah "menyelamatkan" anak dan cucunya.

Waktu keluarga kecil aku ada masalah dengan ekonomi, Opa menolong kami. Mami bilang, sebetulnya mami masih ada hutang sama Opa. 

Maaf ya Opa, padahal Opa berjasa sekali di hidup aku. Opa ngeh ngga? Karena perjuangan Opa, aku tuh juga bisa hidup dengan nyaman dan tenteram sampai sekarang. Opa tidak meninggalkan keluarga ini dengan hutang. Aku jadi punya tempat bernaung, bisa makan, bisa punya pendidikan, juga karena Opa. Tapi aku ngga ngomong langsung itu sama Opa.

Opa juga kuat dan setrong, kayaknya nurun juga deh gennya ke aku hahah.

Kita juga sama-sama suka makan yang itu-itu aja Opa haha. Aku juga suka lidah kucing, sama kayak Opa hahaha. Tapi sampai sekarang aku masih belum bisa makan lagi karena masih sedih jadinya keinget sama Opa.



Opa pasti sebenernya sudah lama ya menderita?

Aku ngga kebayang sakitnya Opa..

Banyak merenung, sudah tidak bisa jalan, nonton TV pusing, sudah tidak diajak keluar, tidak bisa dimandikan setiap hari (padahal Opa orangnya bersih banget). Mau makan suka tersedak, minum juga suka tersedak, sudah tidak bisa menikmati makanan lagi karena dipasang sonde, belum lagi badan Opa gatal-gatal karena stress dan banyak pikiran, sampai Opa akhirnya juga ada luka decubitus karena berbaring terus di kasur.

Maaf aku ngga bisa ngeringanin beban Opa sedikitpun. Padahal aku bisa hidup enak kayak gini juga karena perjuangan Opa salah satunya.

Opa kecewa ngga sama aku?

Opa marah ngga sama aku? 

Maaf aku belum bisa bikin Opa bangga. 

Hal yang lagi aku pikirin dan masih aku sesalin, ketika di November lalu mami info di grup Whatsapp kalau umur Opa tinggal hitungan hari/minggu lagi.

Semestinya, Selasa kemarin aku mustinya kembali saja ke rumah, ada di samping Opa, cium kening Opa, usap-usap Opa, doain Opa di sebelah Opa. Padahal di hari Senin sebelumnya aku sudah pulang ke rumah, setidaknya aku masih punya 1 hari lagi buat merasakan itu sebelum Opa pergi.

Aku sempat kepikiran karena akan pergi kerja ke Jogja dan banyak skenario berkecamuk kalau semisalkan Opa pergi saat aku lagi di sana. Tapi rasanya terlalu egois kalau ingin Opa pergi sepulang aku dari Jogja, kalau Opa sudah sangat menderita, aku berharap penderitaan itu secepatnya bisa sirna dan aku berharap bisa dikuatkan untuk menerimanya. 

Tapi ternyata Opa pergi sebelum saat itu tiba, dan sedihnya aku juga sedang tidak di rumah.

Aku malah lembur di kantor, video call bersama teman-teman, dan pulang kekosan. Aku kira di malam itu, aku masih punya kesempatan ketemu Opa lagi di keesokan harinya, apalagi melihat kabar kalau di malam itu Opa membuka mata saat ada Billy. 

Di beberapa hari sebelumnya, aku habis download CCTV untuk melihat keadaan Opa, resah pas tahu umur Opa tinggal beberapa hari/minggu lagi. Lihat pergerakan Opa di CCTV bikin aku tenang.. sampai akhirnya saat pagi hari aku membuka CCTV, warna tubuh Opa sudah berubah. Opa beneran berpulang.

Hal yang paling aku takutkan, yang paling suka bikin aku kebawa mimpi, terjadi di hari itu.




Maaf ya Opa..

Aku juga menyesal tidak mencari perawat lebih cepat, yang aku ingat hanya memberikan mami rekomendasi dari Yayasan, padahal ada perawat perorangan yang saat itu belum dikontak. Dan aku baru ingat hal itu sesudah melarung jasad Opa.

(terima kasih Vania, Yoga, Kinan, Kak Kevin dan Kak Indah yang sudah merekomendasikan)

Saat teman-temanku datang ke rumah duka, aku cerita-cerita soal Opa hal yang aku ingat. Tapi jujur aku lupa saudara Opa ada berapa haha (yang pasti lebih dari 6 sih hahah), dan Opa ketemu Oma itu di mana ya..? 

Teman-temanku juga menanyakan relasi aku sama Opa, aku mungkin ga sedekat Opa sama Billy, tapi iya dari kecil aku suka main ke rumah Opa dan Oma karena rumah kita berdekatan, dan aku sayang sekali sama Opa dan Oma, ga terlalu sering kali ya beberapa tahun ini, padahal rumah kita akhirnya sudah sebelahan ya.

Maaf ya Opa..

kalau kita bilang kita itu dekat, Opa setuju kah?

Opa dulu pernah bilang saat Billy pergi ke Cina, "gimana ya caranya mengobati rasa sepi?"




Aku coba belajar dari Opa yang hidup berdampingan dengan rasa sepi. Karena pasti Opa sudah jauh menguasainya. Ketika Oma Alzheimer, Opa juga pasti kesepian karena sudah tidak ada teman ngobrol lagi, sepi yang mungkin tidak bisa diobati dengan kehadiran siapapun. Karena Opa juga sudah tidak punya teman kantor, teman sepantaran, atau teman sehobi yang bisa diajak ngobrol kembali, untuk membicarakan hal yang serius atau remeh temeh sekalipun. 

Selama di rumah duka, aku nangisnya ambyar banget Opa.. padahal Om Budi, Om Iwan, dan Mami sebagai anak Opa pasti juga sedih. Mereka juga punya pengorbanan yang dikompromi, tapi malah aku yang dihibur. Hadeh.



Setelah merenungkan, Opa adalah "safe place" aku. Cinta orang tua mungkin yang aku rasakan ada syaratnya, sedangkan kasih dari Kakek kepada cucunya itu seperti unconditional love, dan tanpa syarat.

Ketika aku butuh teman cerita untuk meluapkan rasa overthinking ini, aku sempat bilang mungkin Opa adalah gambaran, panutan sosok kepala keluarga yang aku kagumi yang berhasil menjalankan dan menunaikan tanggung jawabnya dengan baik sampai akhir hayatnya. Membersamai keluarganya. 

Sehingga ketika Opa berpulang, "core"nya yang bikin aku berdiri selama ini seperti goyah dan aku sangat merasa kehilangan.

Mungkin itu sebabnya saat ini aku masih berusaha bangkit dari kesedihan itu, dan hidup berdampingan dengan rasa duka.

Opa tapi sudah ngga sakit kan sekarang? Plis jawab iya :)

Selama mendoakan Opa dan Oma Novena sejak 3 tahun lalu, aku menyadari doa-doanya aku coba sesuaikan, seperti salah satu kalimat dalam doanya:  "Arahkanlah doaku dan kabulkanlah permohonanku.", dan "Yesus, kami percayakan diri kami ke dalam tangan-Mu".

Biasanya diawali dengan:

"Aku berdoa untuk keselamatan Oma Ria Santosa dan Opa Slamet Santosa. Tolong berikan mereka keselamatan duniawi dan surgawi. Kesehatan jasmani dan rohani, juga diampuni dosa-dosanya. Opa Oma selama ini sudah banyak berjuang, mengorbankan kepentingannya untuk bisa memenuhi kebutuhan satu sama lain, anak-anak, dan cucu-cucunya. Tolong jangan buat mereka menderita, mereka Opa Oma aku satu-satunya di dunia ini, aku sangat sayang mereka, aku berdoa untuk keselamatan duniawi dan surgawi mereka".

dari yang: 

  • Ingin Opa bisa sembuh
  • Opa bisa merasakan pulang ke Solo
  • Gatel-gatel Opa bisa sembuh (pindahin aja gatel-gatelnya ke aku)
  • Dekubitus Opa sembuh
  • Hasil darah Opa membaik
  • Pingin Opa bisa merasakan makanan enak lagi
  • Sampai akhirnya mami minta agar didoakan supaya Opa bisa berpulang dengan tenang, dikelilingi orang yang disayang kalau bisa.





Maaf ya, Opa ngga bisa milih tempat Opa lahir, dan aku tau meski Opa ingin menetap dengan pulang ke Solo dan meninggal di Solo, hal itu ngga bisa dikabulkan. Padahal Opa selama ini sudah berjuang banyak untuk cari uang di Jakarta, semestinya Opa sudah bisa beristirahat..di Solo.

Kalau uang aku banyak, Opa mungkin bisa stay di Solo, perawat dan tempat tinggalnya aku yang bayarin. Maaf ya Opa aku cari uangnya kurang gigih.

Biasanya aku tidak sabar menyambut Natal, dan sangat menikmati momen-momen menuju Natal
Tapi kemarin saat lagi berjalan di Papillon Market, di tengah alunan lagu Natal dan dekorasi Natal yang syahdu, aku nangis karena di tahun ini Natalnya sudah ngga ada Opa.

Tahun 2025 ini adalah tahun terakhir saat Opa masih ada di dunia. 

Opa istirahat ya..istirahat.
Damai, tenteram, dan bahagia menyelimuti Opa, ya. Senantiasa.
Aman sentosa, Slamet Santosa.

sampai sekarang aku masih mencoba berdoa Novena, dan masih agak sedih kini sedang membiasakan tidak mendoakan "keselamatan duniawi dan kesehatan jasmani" untuk Opa, karena raga Opa sudah tidak terlihat lagi.

Tapi aku harap doaku selama ini bisa mengiringi perjalanan Opa menuju surga, ya.
Opa sudah menyelesaikan tugas Opa dengan baik, sangattttt baik. 





Opa, selamat bertemu dengan orang-orang yang sudah Opa rindukan selama ini.
Opa-Omanya Opa, orang tua Opa, anak Opa, saudara-saudara Opa, teman-teman Opa. 
Cerita-cerita ya Opa, setiap hal yang selama ini mungkin Opa sudah lama pendam sendiri.

Mampir ke mimpi aku juga boleh ya Opa. Boleh banget. Plis mimpiin.
Pingin bilang maaf berkali-kali dan ngucapin terima kasih sama Opa..

Terima kasih ya Opa, masa kecil aku banyak pahitnya dan bikin traumanya, tapi salah satu kenangan manis itu karena aku masih punya Opa dan Oma, yang bikin kenangan masa kecil aku hangat dan indah.
Kalau umur memori aku panjang, rumah Jelambar dan Melati Mas Point akan selalu punya tempat di dalamnya.

Salah satu core memory aku, adalah saat tidur siang di sofa Opa dan Oma.. bangun-bangun Opa Oma lagi makan bersama, nyuruh aku makan. Kenangan sederhana yang nyaman dan lekat sekali di ingatan aku. Aku ingat aku harus bersyukur saat momen itu, dan aku bersyukur lahir di keluarga Opa dan Oma dan bisa mengenal Opa dan Oma.


Aku sangat bersyukur bisa mengenal Opa Slamet Santosa.
Bangga punya Opa Slamet Santosa.
Sayang sekali sama Opa Slamet Santosa.
Kalo memang ada, di kehidupan selanjutnya aku juga pingin jadi cucu Opa lagi (semoga Opa pun mau, ya. Hahaha) Semoga jika diberi kesempatan pun, aku juga bisa lebih membahagiakan Opa..

Damai selalu beserta Opa.
Aku doakan dari sini ya Opa.
Jumpa lagi nanti..

Aku sayang Opa Slamet Santosa selalu. 
I hope this phase of life liberates you.




No comments:

Post a Comment